KERAGAMAN ANTRAPODA HAMA PADA TANAMAN PADI (Oryza Satifa L)

Main Article Content

Naufal Jus'an
Sukriming Sapareng
Paradillah Ilyas Mattola

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman antrapoda hama pada tanaman padi (Oryza sativa L.) yang dibudidayakan menggunakan dua sistem tanam berbeda, yaitu sistem tanam pindah (Tapin) dan sistem tanam benih langsung (Tabela). Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Balo-Balo, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, pada bulan Mei hingga Juli 2024. Metode pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik, yaitu tangkap langsung dan jaring ayun (sweep net). Sampel antrapoda hama yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan ordo, famili, dan spesies, kemudian dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') dan indeks dominasi Simpson (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sistem tanam pindah (Tapin) ditemukan 10 individu hama dari dua ordo, yaitu Hemiptera dan Lepidoptera, dengan nilai indeks keanekaragaman sebesar H' = 1,33 (kategori sedang) dan indeks dominasi sebesar C = 0,28 (kategori rendah). Sementara itu, pada sistem tanam benih langsung (Tabela) ditemukan 6 individu hama dengan ordo yang sama, nilai indeks keanekaragaman sebesar H' = 1,01 (kategori sedang), dan indeks dominasi sebesar C = 0,39 (kategori rendah). Jenis hama yang dominan ditemukan pada kedua sistem antara lain Cnaphalocrosis medinalis (ulat penggulung daun), Laptocorisa oratorius (walang sangit), dan Nezara viridula (kepik hijau). Perbedaan jumlah individu dan keanekaragaman hama antara kedua sistem budidaya disebabkan oleh perbedaan kondisi mikroklimat, kerapatan tanaman, dan struktur lahan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem tanam pindah (Tapin) cenderung lebih mendukung kehadiran hama dibandingkan sistem Tabela, meskipun keduanya tidak menunjukkan adanya dominasi spesies yang tinggi.

Article Details

Section

Articles

References

Aditama CR, dan Kurniawan N. (2013). Struktur Komunitas Serangga Nokturnal Areal Pertanian Padi Organik pada Musim Penghujan di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Jurnal Biotropika, 1(4), 186-190.

Alwi, D., Sandra, H.M., & Henderson H. (2020). Keanekaragaman dan kelimpahan makrozoobenthos pada ekosistem mangrove Desa Daruba Pantai Kabupaten Pulau Morota. Jurnal Enggano. Vol. 5(1): 64-77.

Gleick, Peter H and Meena Palaniappan. 2010. Peak Water Limits to Freshwater Withdrawal and Use. PNAS: Terjemahan.

Hadi M dan Aminah. (2012). Keragaman Serangga dan Perannya di EkosistemSawah. Jurnal Sains dan Matematika. 20 (3):54-57.

Irni, J. (2020). KERAGAMAN KUPU-KUPU (Lepidoptera) DI TANGKAHAN KABUPATEN LANGKAT SUMATERA UTARA. Agroprimatech, 3(2), 83–92. https://doi.org/10.34012/agroprimatech.v3i2.915

Jumar. (2000). Etimologi Pertanian. Jakarta: PT Renika Cipta.

Ludwig, J. A. dan J. F. Reynold. 1988. Statistical Ecology. John willey and Sons. New york.

Putra, N. S. 1994. Serangga Di Sekitar Kita. Kanisius. Yogyakarta.

Untung, K., Sudomo, M. 1997. Pengelolaan Serangga Secara Berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Simposium Entomologi. Bandung.