KAJIAN ETNOBOTANI MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG

Main Article Content

Nardy Noerman Najib

Abstract

Pemanfaatan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup oleh masyarakat sekitar hutan sudah berlangsung sejak lama. Namun, saat ini pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan tersebut belum banyak terdokumentasikan. Kajian etnobotani di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung penting dilakukan untuk mendokumentasikan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat sekitar kawasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis tanaman berguna dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan hutan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kajian ini dilaksanakan di desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yakni di Desa Panaikkang dan Desa Tompobulu. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara terhadap 30 orang responden pada masing-masing desa. Penentuan responden dilakukan secara acak dengan melakukan orientasi lapang untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemanfaatan masyarakat terkait pemanfaatan tumbuhan berguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi masyarakat di kawasan yang lebih dekat dengan hutan memperlihatkan intensitas dan kebutuhan yang lebih tinggi dengan hutan dibandingkan dengan kawasan yang agak jauh dengan hutan dan lebih dekat dengan kota. Masyarakat Desa Panaikkang menggunakan 47 jenis dari 32 famili, sedangkan data yang diperoleh dari Desa Tompobulu, masyarakat memanfaatkan 82 jenis tumbuhan dari 40 famili

Article Details

Section

Articles

References

Adina, 2012. Multimanfaat Jambu Biji. Palembang: Universitas Sriwijaya.

Hamzari, 2008. Identifikasi tanaman obat-obatan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan Tabo-tabo. Jurnal Hutan dan Masyarakat 3(2), 111-234

Hidayat, Syamsul, Inggit PA., Esti, M., Glenn, W., 2001. Tumbuhan Berguna di Kawasan Hutan Luku Melolo, Sumba Timur, Indonesia. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI. Bogor.

Ismanto, 2007. Inventarisasi potensi Pakis (Cyathea sp.) di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Buletin Konservasi Alam 7(1), 48-56.

Patcharaporn, V., Ding, W., Cen, X., 2010. Insecticidal activity of five chinese medicinal plants against Plutella xylostella L. Larvae. Journal of Asia-Pacific Entomology 13(3), 169–173.

Plant Resources of South-East Asia., 2002. Medicinal and Poisonous Plants 2. PROSEA 12(2). Bogor.

Purwanto, Y., 2004. The Ethnobiological Society Of Indonesia. Journal of Tropical Ethnobiology. 1(1), Bogor.

Suryadarma, IGP., 2008. Diktat Kuliah Etnobotani. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Utami, S., Noor, FH., 2010. Pemanfaatan etnobotani dari hutan tropis Bengkulu sebagai pestisida nabati. Artikel Ilmiah JMHT 16(3), 143–147.

Windadri, Florentina, IMR., Tahan, U., Himmah, R., 2006. Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat oleh masyarakat lokal Suku Muna di Kecamatan Wakarumba, Kabupaten Muna, Sulawesi Utara. Jurnal Biodiversitas (7)4, 333-339.