Keanekaragaman Klon Kakao (Theobroma cacao L.) pada Lahan Usaha Tani di Desa Tamboke Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara

Main Article Content

Asrad Subair
Sukriming Sapareng
Akmal

Abstract

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan utama di Kabupaten Luwu Utara dan menjadi sumber pendapatan penting bagi masyarakat. Sebagai wilayah sentra produksi, Luwu Utara memiliki beragam klon kakao dengan karakter yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman klon kakao pada lahan usaha tani di Desa Tamboke, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2025 menggunakan pendekatan deskriptif dan survei terhadap 10 kebun petani kakao. Data primer diperoleh melalui observasi karakter morfologi (bentuk buah, bentuk daun, warna bunga, bentuk biji, dan struktur batang) serta wawancara langsung, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keanekaragaman klon kakao yang ditanam oleh petani, yaitu klon MCC 02, BR-25 (Sulawesi 02), dan kakao lokal tanpa klon. Klon MCC 02 merupakan klon yang paling banyak ditanam petani karena memiliki daya hasil tinggi (lebih dari 1,13 ton/ha), buah lebat berukuran besar, serta ketahanan terhadap hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dan penyakit VSD. Produksi tertinggi dicapai oleh petani dengan luas lahan dan jumlah pohon terbanyak. Keanekaragaman klon yang ditanam dipengaruhi oleh preferensi petani terhadap keunggulan masing-masing klon.

Article Details

Section

Articles

References

Azwar, R. (2008). Perkembangan pemuliaan tanaman kakao (Theobroma cacao L.). Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 30(4), 8–11.

Badan Pusat Statistik. (2024). Kabupaten Luwu Utara dalam angka 2024. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.

Dinas Perkebunan. (2010). Statistik perkebunan Indonesia: Kakao. Direktorat Jenderal Perkebunan.

Heddy, S. (1990). Budidaya tanaman kakao. Angkasa.

Kementerian Pertanian. (2019). Deskripsi klon unggul kakao Masamba Cocoa Clone 02 (MCC 02). Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Lukito, A. M. (2010). Panduan lengkap budidaya kakao. Agromedia Pustaka.

Poedjiwidodo, Y. (1996). Sambung samping kakao. Trubus Agriwidya.

Prawoto, A. A. (2008). Panduan lengkap kakao: Manajemen agribisnis dari hulu hingga hilir. Penebar Swadaya.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. (2010). Buku pintar budidaya kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.

Sapareng, S., Akmal, & Halid, I. (2017). Sistem budidaya lorong (alley cropping) pada pertanaman kakao dengan tanaman nilam di Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara. Jurnal Balireso, 2(1), 28–36.

Sapareng, S., Arzam AR, T. S., Erwina, E., Samad, P. I. S., Mattola, P. I., Akmal, A., & Gusti, W. R. (2025). Peningkatan kapasitas petani kakao di Desa Tete Uri. To Maega: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 8(1), 201–207. https://doi.org/10.35914/tomaega.v8i1.3007

Siregar, T. H. S. (2003). Pemuliaan dan karakterisasi tanaman kakao. Jurnal Penelitian Tanaman Industri, 9(2), 45–52.

Suryani, D., & Zulfebriansyah. (2019). Komoditas kakao: Potensi dan peluang bagi peningkatan ekspor Indonesia. Economic Review, 210(2), 1–15.

Susanto, F. X. (1995). Tanaman kakao: Budidaya dan pengolahan hasil. Kanisius.

Susilo, A. W., & Anita-Sari, I. (2015). Keragaman genetik plasma nutfah kakao (Theobroma cacao L.) berdasarkan karakter morfologi. Pelita Perkebunan, 31(1), 1–10.