IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROMOSI ASI EKSKLUSIF DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MASAMBA KABUPATEN LUWU UTARA
DOI:
https://doi.org/10.35914/tjenm990Abstrak
Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mencerminkan kekurangan gizi kronis pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Salah satu intervensi spesifik yang direkomendasikan secara global untuk mencegah stunting adalah pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Namun, cakupan praktik ASI eksklusif di berbagai daerah masih belum optimal, sehingga diperlukan kajian tidak hanya pada aspek epidemiologis, tetapi juga pada dimensi implementasi kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan promosi ASI eksklusif dalam upaya pencegahan stunting di wilayah kerja Puskesmas Masamba dengan menggunakan model implementasi kebijakan George C. Edward III sebagai kerangka analitis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling, terdiri dari Kepala Puskesmas, dua bidan, satu tenaga gizi, dua kader posyandu, dan empat ibu balita. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi pelayanan KIA, dan telaah dokumen program. Analisis data menggunakan teknik analisis tematik, dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan metode.Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara riwayat pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan. Balita yang tidak memperoleh ASI eksklusif memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan linear dibandingkan balita yang memperoleh ASI eksklusif. Secara implementatif, efektivitas kebijakan dipengaruhi oleh empat dimensi utama: (1) komunikasi yang belum sepenuhnya efektif dalam membangun pemahaman masyarakat; (2) keterbatasan sumber daya, terutama konselor laktasi dan fasilitas pendukung bagi ibu bekerja; (3) disposisi masyarakat yang dipengaruhi faktor sosial budaya; serta (4) struktur birokrasi yang belum optimal dalam monitoring dan koordinasi lintas sektor. Implementasi kebijakan promosi ASI eksklusif di wilayah penelitian telah berjalan, namun belum optimal secara struktural dan sosial. Pencegahan stunting memerlukan penguatan tata kelola kebijakan melalui komunikasi berbasis komunitas, dukungan struktural bagi ibu menyusui, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta integrasi monitoring lintas sektor secara berkelanjutan.



