TRADISI TAHLILAN DALAM BUDAYA LUWU : ANALISIS KRITIS PEMIKIRAN IBNU TAIMIYAH TENTANG BID’AH DAN TRADISI LOKAL

Main Article Content

Nursyamsi Ichsan
Kurniati Kurniati
Zulhas’ari Mustafa

Abstract

Tradisi tahlilan pasca kematian merupakan praktik keagamaan yang telah tertanam kuat dalam budaya masyarakat Muslim di berbagai daerah, termasuk di Luwu, Sulawesi Selatan. Meski memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi, praktik ini sering terjadi, terutama dalam perspektif kelompok Islam skripturalis yang Merujuk pada kritik tajam Ibnu Taimiyah terhadap bid'ah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan teologis Ibnu Taimiyah terkait praktik keagamaan yang tidak ditemukan secara eksplisit dalam sumber utama Islam serta menelaah bagaimana praktik tahlilan dimaknai oleh masyarakat Luwu sebagai bagian dari tradisi keagamaan-kultural.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis wacana, serta menganalisis teks-teks klasik dan literatur kontemporer yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahlilan di Luwu berfungsi sebagai media solidaritas sosial, pendidikan spiritual, dan internalisasi nilai-nilai Islam berbasis lokal. Sementara itu, kritik Ibnu Taimiyah tetap relevan sebagai upaya menjaga kemurnian ibadah, namun penerapannya perlu mempertimbangkan konteks sosial dan maq??id al-syar?'ah.

Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya wacana Islam Nusantara dan menawarkan pendekatan moderat dalam menyikapi praktik keagamaan lokal. Studi lanjutan direkomendasikan untuk menggali dinamika generasi muda dalam memaknai tradisi keagamaan di tengah arus modernitas.

Article Details

Section

Articles

References

Al-Buthi, M. S. R. (1993). Al-Bid’ah: Dirasah fi al-Fikr al-Islami. Damaskus: Dar al-Fikr.

Al-Qaradawi, Y. (1999). Al-Sunnah wa al-Bid’ah: Mafahim ‘ala Thariq al-Tajdid. Kairo: Maktabah Wahbah.

Ahmad Baso. (2006). Islam Nusantara: Islam untuk Kemanusiaan dan Peradaban. Yogyakarta: LKiS.

Baso, A. (2005). Islamisasi Nalar: Kritik terhadap Nalar Arab, Nalar Bayani, Irfani dan Burhani. Yogyakarta: LKiS.

Departemen Agama RI. (2002). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI.

Hanafi, M. (2007). Metode Tafsir Maudhu’i dalam Studi al-Qur’an. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Ibnu Taimiyah. (2004). Majm?? al-Fat?w? (Jilid I–XXXVII). Riyadh: Dar al-Wafa’.

Ibnu Taimiyah. (n.d.). Dar’ Ta‘?ru? al-‘Aql wa al-Naql. Kairo: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ibnu Taimiyah. (n.d.). Iqtidh?’ Shir?? al-Mustaq?m. Beirut: Dar Ibn Hazm.

Ismail Palangnga. (2012). Revitalisasi Tradisi Islam Nusantara dalam Tantangan Globalisasi. Makassar: Alauddin University Press.

Lembaga Survei Indonesia (LSI). (2021). Laporan Survei Nasional: Praktik Keagamaan Umat Islam di Indonesia. Jakarta: LSI.

Mahfudz, S. (2004). Nuansa Fiqh Sosial: Uraian Fikih dalam Wacana Sosial Kemasyarakatan. Yogyakarta: LKiS.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook (2nd ed.). California: Sage Publications.

Muslim, I. al-H. (2000). Sahih Muslim. Beirut: Dar al-Fikr.

Najib, A. N. (2013). Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh ke Politik Identitas. Jakarta: LIPI Press.

Palangnga, I. (2020). Islam Kultural dalam Bingkai Lokalitas. Makassar: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin.

Ramadhan al-Buthi, M. S. (2004). Kubra al-Yaq?niyy?t al-Kauniyyah. Beirut: Dar al-Fikr al-Mu‘??ir.

Ramadhan, I. (2021). Islam dalam Dialektika Budaya Lokal dan Global. Jakarta: Rajawali Pers.