REPRODUCTIVE PATTERNS AND CAPTIVITY OF TIMOR DEER IN DIFFERENT MICRO CLIMATE CONDITIONS
DOI:
https://doi.org/10.55285/bonita.v4i2.1643Keywords:
penangkaran, rusa timor, iklim mikroAbstract
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pola reproduksi rusa timor di penangkaran dengan kondisi iklim mikro yang berbeda. Data yang dikumpulkan meliputi aspek biofisik dan pola reproduksi dan manajemen peangkaran rusa timor. Metode yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan studi dokumen. Data dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim kawin rusa timor di penangkaran Cibaliung Sumberdaya (CSD) terjadi ketika rata-rata suhu udara 27.0–28.0 ºC, kelembaban udara 77–85% dan curah hujan bulanan 185–671 mm, sedangkan musim melahirkan terjadi ketika rata-rata suhu udara 27.0–28.0 ºC, kelembaban udara 77–83% dan curah hujan bulanan 155–228 mm. Musim kawin di penangkaran Hutan Penelitian (HP) Dramaga terjadi ketika rata-rata suhu udara 25.8–26.2 ºC, kelembaban udara 74–85% dan curah hujan bulanan 199–383 mm, sedangkan musim melahirkan terjadi ketika rata-rata suhu 25.9–26.5 ºC, kelembaban udara 80–85% dan curah hujan bulanan 242–383 mm. Musim kawin di Tahura Djuanda terjadi ketika rata-rata suhu udara 23.0–23.7 ºC, kelembaban udara 75–79% dan curah hujan bulanan 107–236 mm, sedangkan musim melahirkan terjadi ketika rata-rata suhu udara 23.4–24.1 ºC, kelembaban udara 71–79% dan curah hujan bulanan 66–229 mm.
References
Afzalani RA., Muthalib., Musnandar E. 2008. Preferensi pakan, tingkah laku makan dan kebutuhan nutrien rusa sambar (Rusa unicolor) dalam usaha penangkaran di Provinsi Jambi. Media Peternakan. 31(2):114–121.
Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor Press.
Andrabi SMH., Maxwell WMC. 2007. A review on reproductive biotechnologies for conservation of endangered mammalian spesies. Animal Reproduction Science. 99:223–243. doi: https://doi.org/10.1016/j.anireprosci.2006.07.002.
Asher GW. 2011. Reproductive cycles of deer. Animal Reproduction Science. 124:170–175. doi: 10.1016/j.anireprosci.2010.08.026.
Bismark M., Mukhtar AS., Takandjanji M., Garsetiasih R., Setio P., Sawitri R., Subiandono E., Kayat. (2011). Sintesis Hasil-Hasil Litbang: Pegembangan Penangkaran Rusa Timor. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.
Dradjat AS. 2014. Teknologi dan Pengelolaan Rusa Indonesia. Yogyakarta (ID): Universitas Gadjah Mada Press.
Eljarah HA., Al-zghou MB., Jawasreh K., Ismail ZAB., Ababneh MM., Elhalah AN., Alsumadi MM. 2012. Female reproductive tract anatomy of the endangered arabian orynx (Orynx leucorynx) in Jordan. Italian Journal of Anatomy and Embryology. 117(3):167–174. doi:10.13128/IJAE-11787.
Elis. 2013. Perilaku rusa timor (Rusa timorensis de Blainville, 1822) betina di penangkaran akibat pemberian tabat barito (Ficus deltoidea Jack) (Skripsi Sarjana). Institut Pertanian Bogor. Bogor.
English AW. 1992. Management strategies for farmed chital deer. In: The Biology of Deer. Ed: RD Brown. 189–195.
Handarini R. 2006. Pola Siklus Pertumbuhan Ranggah Rusa Timor (Rusa timorensis) Jantan. Jurnal Agripubisnis Peternakan. 2(1):28–35.
Hasan, R. A. & Utomo, M. M. B. (2011).Kebijakan penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) oleh masyarakat (Studi kasus di Nusa Tenggara Barat). (pp. 118-123). In Karyanto, P., Sugiharto, B. & Prayitno, B. A. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional VII Pendidikan Biologi. Surakarta: Prodi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Sebelas Maret.
Hedges S., Duckworth., Timmins JW., Semiadi RG., Dryden G. 2015. Rusa timorensis. The IUCN red list of threatened species. Diakses dari http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2015–2.RLTS.T41789A22156866.en.
Ismail D. 2012. Kinerja reproduksi Rusa timorensis yang dipelihara di penangkaran rusa Cariu dan Ranca Upas Provinsi Jawa Barat. Jurnal Bakti Saraswati. 2(1):1–6.
Jaafar WNFW., Haron AW., Yusoff R., Abdullah FFJ., Abidin SASZ., Azmi., Lila., Amat AC., Rashid MA., Omar MA. 2017. Determination of breeding seasonality in rusa deer (Rusa timorensis) stags via serum testosterone profiling. American Journal of Animal and Veterinary Sciences. 12(1):45–52. doi: https://doi.org/10.3844/ajavsp.2017.45.52.
Kayat., Pudyatmoko S., Maksum M., Imron MA. 2017. Potensi konflik penggembalaan kuda pada habitat rusa timor (Rusa timorensis) di kawasan Tanjung Torong Padang Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu Kehutanan. 11:4–18.
Mahre MB., Wahid H., Rosnina Y., Jesse FFA., Azlan CA., Yap KC. 2013. Plasma progesterone changes and length of oestrous cycle in rusa deer (Rusa timorensis). Animal Reproduction Science. 141:148–153. doi: 10.1016/j.anireprosci.2013.07.012.
Masy’ud B. 1997. Reproduksi Pada Rusa. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor Press.
Nurcholis., Muchlis D. 2018. Preliminary study of the reproductive nature of deer (Cervus timorensis) in community management. International journal of mechanical engineering and technology. 9(12):192–197.
Pudjirahaju A. 2014. Biologi reproduksi muncak (Muntiacus muntjak muntjak, Zimmermann 1780) betina di penangkaran [Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Samsudewa D., Capitan SS. 2011. Reproducticve behaviour of timor deer (Rusa timorensis). Wartazoa. 3:109–111. doi: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v21i3.976.
Semiadi G. 1997. Teknik perawatan anak rusa tropika sejak lahir hingga masa sapih. Media Konservasi. 5(2):77–80.
Santoso SI. 2011. Rusa Timor (Cervus timorensis): dari Hewan Konservasi menjadi Hewan Ternak menuju Budidaya. Graha Ilmu. Jakarta.
Semiadi G., Nugraha RTP. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Bogor (ID): LIPI.
Setio P., Takandjandji M. 2011. Pengelolaan reproduksi dan administrasi pada penangkaran rusa timor. Prosiding Gelar Teknologi Hasil Penelitian IPTEK untuk Kesejahteraan Masyarakat Sumba Barat. [Internet]. [Waikabubak, 30 Nopember - 1 Desember 2011]. Hal. 52–74.
Setiyono A., Samsudewa D., Ondho YS. 2018. Tingkah laku estrus rusa timor (Rusa timorensis) betina yang di suplementasi dengan magnesium, seng dan selenium pada satu siklus estrus. Jurnal Sain Peternakan Indonesia. 13(1): 8–19.
Sita V., Aunurohim. 2013. Tingkah laku makan rusa sambar (Rusa unicolor) dalam konservasi ek-situ di Kebun Binatang Surabaya. Jurnal Sains Dan Seni Pomits. 2(1):171–176.
Sumadi A., Utami S., Waluyo EA. 2008. Pendekatan model sistem dalam kebijakan pengelolaan populasi rusa timor (Rusa timorensis Mul. and Schl. 1844) di Taman Nasional Baluran. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 5 (3): 201–215.
Takandjandji M. 2011. Teknik penangkaran rusa timor (Rusa timorensis). Diakses dari http://www.forda-mof.org/files/Rusa-Merry.pdf.
Takandjandji M., Garsetiasih R., Kayat. 2011. Pengembangan penangkaran rusa. Di dalam: Mukhtar AS., Bismark M., Sulistyo AS., Agus DI, editor. Sintesis Hasil-hasil Litbang Pengembangan Penangkaran Rusa Timor (Rusa timorensis Blainville, 1822). Jakarta (ID).
Thohari M., Haryanto., B. Masy’ud, D. Rinaldi, H. Arief, W. A. Djatmiko, S.N. Mardiah, N. Kosmaryandi, Sudjatnika. 1991. Studi kelayakan dan perancangan tapak penangkaran rusa di BKPH Jonggol, KPH Bogor, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Kerjasama antara Direksi Perum Perhutani dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Thohari AM, Masy’ud B, Takandjandji M. 2011. Teknis Penangkaran Rusa timor (Cervus timorensis) untuk Stok Perburuan. Seminar Sehari Prospek Penangkaran Rusa Timor (Cervus timorensis) sebagai Stok Perburuan. Bogor. p1-15
Tomaszewska MW., Sutama IK., Putu IG., Chaniago TD. 1991. Reproduksi, Tingkah Tingkah Laku, dan Produksi Ternak di Indonesia. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Zakaria MA., Saad MZ., Hasliza AH., Wahid H. 2016. Growth and reproductive performances of farmed timorensis deer (Rusa timorensis). Journal Tropical Agricultural Science. 39(1):79–86.
Zumrotun. 2006. Peranan sanrego (Lunasia amara Blanco) dalam memperpendek siklus ranggah dan meningkatkan libido seksual rusa timor (Rusa timorensis de Blainville) jantan (Tesis Master). Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.












